Sabtu, 03 Desember 2011

Cerpen: Ada Yang Salah

Aku memilih berjalan pulang ke rumah ketimbang naik angkot. Pertimbanganku banyak. Selain aku tidak suka berdesakan, perhitungan uang jajan yang menipis juga masuk perdebatan di otakku.
Jadilah aku berjalan sendiri di bawah terik sinar matahari. Menjadi siswa SMA memang tidak mudah. Apalagi karena aku miskin.
“Win, kok sendirian?” sapa sebuah suara di belakangku.
Aku langsung tahu siapa pemilik suara empuk itu. Baruna. Belakangan ini aku memang suka sekali mengobrol dengannya. Ada rasa ekstrim tiap kali aku dekat dengannya. Rasa ekstrim ini biasa aku rasakan jika aku melakukan aktivitas gila seperti Bungee Jumping atau naik gunung.
“Semuanya udah pada duluan…” jawabku.
Baruna yang mengendarai motornya langsung menepi di depanku dan mematikan mesin motornya.
“Gimana kalo aku antar saja?” tanya-nya.
Penawaran yang sangat menggiurkan. Aku mulai mempertimbangkan. Ada banyak alasan kenapa aku harus menolak dan kenapa aku harus menerimanya.
Aku harus menolak sebab Baruna sudah punya pacar. Apalagi pacar Baruna teman sekelasku sendiri. Kan tidak etis?! Apa kata orang nanti!
Tapi aku juga harus menerima tawaran itu soalnya, matahari begitu terik dan rasanya aku mau pingsan saja. Apalagi aku mengantuk berat jadi tubuhku benar-benar jadi lemas.
“Kenapa bengong?” tanya Baruna. Dia pasti heran melihat wajah anehku.
Aku tersenyum. Sampai detik itu, aku belum mendapatkan jawaban atas penawaran Baruna itu.
“Udahlah. Nggak usah kebanyakan mikir. Kamu mau mati kepanasan, ya?”
Aku mengganggap kalimat itu sebagai penyemangat dan dengan gembira aku naik ke atas motor Baruna.
@@@@
Ada rasa takut dalam diriku ketika aku menginjakkan kakiku di sekolah keesokan harinya. Aku takut kalau-kalau kemarin ada teman yang melihat aku dibonceng Baruna. Rasa ngeri akan dilabrak oleh Cantika, pacar Baruna, membayang-bayangiku.
Tapi tidak ada yang terjadi saat aku sampai di kelas. Semua berjalan dengan lancar dan tidak ada satu manusia pun yang menghakimiku. Baruna bahkan sudah dengan gagahnya duduk di mejaku.
Cantika rupanya belum sampai di sekolah jadi aku dapat kesempatan buat ngobrol sepuasnya dengan Baruna (lagi).
“Hari ini katanya ada tugas matematika, ya?” tanya Baruna dengan senyum lebarnya yang khas.
“Ada. Tapi aku udah selesaikan waktu hari sabtu…” jawabku.
“Wah, kalo Cantika baru aja selesai tadi pagi. Jam empat subuh dia nelpon aku buat nanyain tugas matematika itu. Gila banget!”
Aku tidak dapat bilang apapun kalau sudah menyangkut Cantika. Meski dia teman sekelasku, tapi kami beda gang. Kami bahkan jarang sekali mengobrol. Tapi anehnya dengan pacar Cantika, aku sudah seperti mengenalnya berabad-abad yang lalu.
“Kamu tersenyum?” tanya Baruna.
“Kenapa?” aku malah dengan bodohnya balik bertanya.
“Wina, kamu tersenyum sendiri tadi. Ada apa?”
Rupanya saat mendengarkan Baruna bicara, aku menunjukkan senyum bodohku. Dan aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku tidak tahu kenapa aku tersenyum tanpa sadar seperti itu.
“Sayyyy….” teriak Cantika dari ambang pintu.
Baruna langsung menghampiri pujaan hatinya itu. Tapi aku tidak mengerti kenapa ada rasa tidak enak di dadaku. Aku ingin sekali kabur dari tempat itu. Ingin sekali rasanya pergi ke tempat yang jauh.
@@@@
Rasa tidak enakku masih aku bawa sampai jam istirahat pertama. Aku dan Mia, sahabatku, memutuskan untuk membeli es kelapa muda saja. Mia berpendapat kalau aku pasti kepanasan makanya bisa merasa tidak enak seperti itu.
Satu-satunya penjual es kelapa muda di SMA Nusa Bangsa terletak di sebelah kelas X.1. Itu artinya aku bakal melewati kelas-nya Baruna. Belum sampai kakiku menginjak areal kebun kelas X.1, jantungku berdetak kencang. Padahal aku tidak melewati jalan menanjak. Aku juga tidak berlari.
Dan perasaan tidak enak-ku semakin menjadi-jadi waktu aku melihat pemandangan romantis di depanku. Baruna dan Cantika sedang duduk bareng di kedai es kelapa muda SMA Nusa Bangsa.
“Gimana kalau kita beli es buah aja di depan?” usulku pada Mia.
Mia menghentikan langkahnya. “Beli es buah? Kejauhan, Win! Kita udah sampe disini masa musti balik lagi. Nanti keburu bel masuk kelas…”
“Kalau gitu, nggak jadi aja deh.” Aku berbalik dan berjalan menuju kelasku sendiri.
Mia mengejarku. “Kamu kenapa?” tanya-nya.
Pertanyaan itulah yang tidak bisa aku jawab. Ada apa sama diriku? Aku merasa sangat sakit tapi aku tidak tahu bagian tubuhku yang mana yang bermasalah. Aku juga merasa begitu melankolis. Rasanya seperti ada sesuatu yang hilang dari diriku.
Sampai bel pulang berbunyi, aku sama sekali tidak dapat menemukan jawaban atas kegundahanku.
@@@@
Untungnya, sore itu ibu menyuruhku mengantar adik sepupuku ke Taman Kota untuk belajar menari. Rencananya, kesempatan itu akan aku manfaatkan sebaik-baiknya mencari tahu apa yang terjadi pada diriku.
Tapi yang aku temukan di Taman Kota membuatku lupa pada misi besarku. Baruna tahu-tahu saja menghampiriku. Katanya, dia juga mengantar adiknya belajar menari. Tapi, meski begitu aku mendapatkan celah kecil untuk mengintip jawaban atas rasa aneh dalam diriku.
“Kamu nggak belajar menari?” tanya Baruna.
“Nggak. Aku lebih suka naik gunung atau berenang. Lebih menantang!” jawabku.
“Wah, kamu cewek yang suka tantangan, ya. Sayangnya, Cantika benci banget sama hal yang berbau tantangan. Padahal sebenarnya aku juga suka tantangan.”
Pada titik ini, aku merasa sepertinya aku memenangkan sebuah kontes besar yang hanya digelar sekali dalam satu abad. Aku pun mulai sadar apa arti perasaan itu.
“Kenapa nggak gabung sama sispala?” tanyaku.
“Cantika mana mau aku gabung sama sispala. Dia pasti marah-marah!”
“Sebagai cewek yang baik, dia seharusnya ngasi kamu kebebasan buat memilih.” Kataku.
“Coba aja kalo cewekku kamu…” kata Baruna. Dia tersenyum ke arahku.
Tanpa menganalisis lebih dalam perasaanku, aku langsung tahu apa arti sikapku selama ini. Aku menyukai Baruna bukan sebagai teman yang asik diajak mengobrol. Bukan juga karena Baruna suka tantangan sama seperti diriku.
Tapi karena aku melihat Baruna sebagai lawan jenisku. Karena dia adalah pria dan aku adalah wanita. Rasa yang muncul ini sama sekali tidak bisa aku bendung.
@@@@
Malam itu, aku merenung super dahsyat di kamarku. Bahkan, tugas biologi Bu Maria batal aku sentuh. Aku hanya ingin membuat keputusan tentang apa yang bakal aku lakukan pada perasaanku ini.
Jelas, aku tidak mau berurusan dengan Cantika. Dia terlalu angker untuk diajak berseteru. Cantika bukan cewek yang bisa berbelas kasih. Dia pasti akan menginjak-nginjakku begitu tahu apa yang aku rasakan pada pacarnya.
Di sisi lain, aku juga tidak bisa memadamkan perasaanku begitu saja. Perasaanku ini adalah bunga mawar yang baru saja bermekaran. Apa aku harus berbuat jahat dan merabasnya? Tidak. Bunga mawar ini tidak sering-sering tumbuh. Ini mawar langka dan aku ingin melihatnya berkembang.
Jadi kemudian aku menulis di buku harianku.
Pesan kepada seseorang: meski semua pintu kesempatan sudah tertutup, bukan berarti aku harus mematikan mawar yang sudah terlanjur tumbuh di hatiku, bukan?!

Hutan Belantara

Bu Ayu akhirnya keluar juga. Aku seharusnya senang sebab aku bisa mengerjakan tugas yang dia berikan sambil mengobrol dengan teman-temanku. Tapi faktanya, aku sama sekali tidak bisa tenang. Aku malah sangat khawatir.
“Kenapa bengong, Lun?” tanya Bela, teman sebangku-ku.
Aku menggeleng. Dan tahu nggak? Dialah yang membuatku khawatir. Di saat kelas kosong tanpa guru, teman-temanku yang lain pasti akan mulai mengejek Bela. Mereka suka sekali mengatakan kalau orang tua Bela pasti mabuk berat waktu memberinya nama. Soalnya, mereka memberi nama putri cantik mereka ‘Hutan Belantara.’
Selama ini Bela memang terlihat tenang-tenang saja. Dia sama sekali tidak peduli pada apapun yang dikatakan orang lain. Seolah-olah mereka semua hanyalah serangga kecil yang tidak perlu dihiraukan. Tapi aku takut kalau suatu saat Bela tidak akan tahan. Kesabaran ada batasnya.
“Masih bengong aja?!” ucap Bela lagi.
Aku memandanginya. “Masih mikir!” kataku.
“Perlu aku bantuin?”
“Nggak, Bel. Aku usaha sendiri dulu.”
Bela kembali menekuni tugasnya. Sedangkan, aku kembali berpikir sambil menantikan kicauan kejam teman-teman yang lain.
“Tan, ortu-mu udah siuman belum?”
Nah, perang tidak seimbang pun dimulai. Itu Poppy yang berkicau. Dia adalah cewek tercantik di kelas X.4 ini. Atau paling tidak, dia menggangap dirinya seperti itu.
Hanya saja, menurutku Bela jauh lebih cantik. Mungkin Poppy sadar hal ini makanya dia jadi yang paling getol mengejek Bela. Tentu saja, agar Bela punya kesan jelek jadi dia bisa terus berjaya sebagai yang tercantik.
“Kasi aja kopi, Tan.” Lanjut Poppy lagi. “Biasanya, kalo dikasi kopi, orang mabuk cepet sadar!”
Poppy tertawa dan tawa ini tentu saja diikuti oleh yang lain. Aku melirik Bela, mencoba meneliti wajahnya apakah dia akan meledak atau tidak. Tapi Bela masih tetap tenang. Dia masih berkonsentrasi pada soal matematika yang sedang dikerjakannya. Kenapa dia begitu tenang, ya?!
“Tan, apa kamu nggak pengen ganti nama?” tanya Windy. Dia adalah sahabat kental Poppy dan dia selalu melakukan apapun yang Poppy lakukan.
“Jangan-jangan dulu ortu-mu nggak hanya mabuk pas ngasi kamu nama. Tapi kamu memang dilahirkan di tengah hutan belantara!” kata Poppy yang diikuti oleh tawa yang lainnya.
Bela berhenti menulis. Dia meletakkan pulpennya dengan hati-hati lalu berbalik ke arah Poppy dan Windy.
“Pop, ortu-ku nggak mabuk kok dan mereka sangat waras.” Ucap Bela. “Dan aku nggak pengen ganti nama. Menurutku, nggak ada yang aneh dengan namaku…”
Aku melihat ekspresi wajah Poppy dan Windy. Mereka terlihat tidak senang – kesal lebih tepatnya, pada ucapan Bela. Aku tahu, Bela pasti memasang wajah tegar-nya. Sama seperti biasanya.
@@@@
Aku dan Bela sedang duduk di perpustakaan. Aku sengaja mengajak Bela ke tempat ini untuk menghindari Poppy dan konco-konconya. Mereka sangat berbahaya dan sanggup menghancurkan orang dengan sekali pandang saja.
Tadi kami berada di kantin. Namun, ketika mendengar suara kedatangan poppy and the gang aku langsung mengajak Bela kabur. Kalau mau jujur, Bela pasti tidak mau kabur. Dia akan lebih memilih tinggal di kantin dan melanjutkan menguyah camilannya.
“Memangnya mau cari buku apa?” tanya Bela padaku.
Itulah alasan yang aku pakai untuk menyeret Bela ke perpustakaan.
“Novel. Katanya perpus dapat sumbangan banyak novel remaja dari alumni!” jawabku. Tapi ini jawaban yang jujur, lho.
Bela ikut memilah novel di salah satu rak buku di belakangku. Sebenarnya, ada banyak alasan kenapa aku lebih memilih untuk menghindari Poppy cs. Yang pertama tentu aku tidak ingin melihat temanku sakit hati. Meski secara teknis hal itu belum aku temui dalam diri Bela. Yang kedua, aku takut ejekan itu akan menular padaku. Aku tidak mau kena ejek mereka. Bagaimana kalau mereka juga mengatakan kalau ortu-ku mabuk pas memberiku nama?
Soalnya, nama Luna tidak cocok denganku. Aku tidak cantik seperti bulan. Kalau sudah begitu, aku tahu aku akan mati. Aku mungkin akan pindah sekolah. Tidak, tidak hanya itu. Setelah pindah sekolah, aku juga akan ganti nama!
“Ada Radit!” ucap Bela bersemangat. Radit adalah cowok yang dia sukai. Tapi, apakah Radit juga menyukai Bela, aku tidak tahu. Radit sangat sulit ditebak.
“Mana?” tanyaku pada Bela.
“Itu. Di dekat ruang referensi.”
Aku melayangkan pandanganku ke tempat yang dimaksud. Dan disanalah Radit. Dia tidak sendiri. Dia bersama beberapa orang temannya. Tidak, rasanya lebih tepat bila aku menyebutnya atasan. Sebab, kadang aku melihat mereka memperlakukan Radit seperti babu. Dan teman-teman Radit itu juga tidak aku sukai. Mereka juga senang sekali mengatai Bela.
“Aku mau kesana!” kata Bela mantap.
“Ngapain?” tanyaku.
“Yah, buat nyapa dia-lah, Luna! Kamu gimana sih?!”
“Mendingan jangan…”
Bela memandangku, minta penjelasan.
“Soalnya disana juga ada teman-temannya…” jawabku polos.
“Kamu takut aku diejek? Atau kamu takut Radit bakal nyuekin aku?”
“Dua-duanya!”
“Aku hanya pengen tahu, Lun, apa Radit udah sadar atau belum!”
Bela punya khayalan kalau Radit sebenarnya sangat menyukai dirinya. Hanya saja, cowok itu masih gengsi sebab menurut teman-temannya (tidak, atasannya), Bela itu punya cacat nama. Jadi cewek yang punya cacat nama tidak boleh dijadikan pacar. Gengsi. Itulah alasannya. Jadi Bela menganggap Radit belum mendapatkan kesadaran atau pencerahan lebih tepatnya.
“Aku nggak ikut!” kataku cepat.
Bela tetap saja melenggang pergi. Dia tidak peduli kalau aku tidak ikut. Dan benar saja, ketika Bela sampai disana dan menyapa Radit, semuanya berubah menjadi neraka. Yah, setidaknya itulah menurutku.
Radit hanya menggangguk pada Bela lalu masuk ke ruang referensi, memilih buku paling tebal dan pura-pura sibuk membaca. Pada akhirnya, Bela harus berhadapan dengan teman-teman Radit yang mulai melontarkan pendapat kejam mereka. Bela inilah, itulah, beginilah, begitulah, blah, blah, blah… aku tidak suka mendengarnya.
Bela kembali padaku. “Dia masih belum dapat pencerahan!” katanya.
“Mungkin kamu seharusnya ngajak dia ke India atau Tibet buat mendapatkan pencerahan!” ujarku.
Bela tertawa. “Iya, kamu bener. Padahal aku kira dia sudah sadar. Soalnya, kemarin aku ketemu dia di Mall dan dia mau ngobrol ngalor-ngidul denganku!”
Aku hanya tersenyum dan Bela kembali tertawa dan bel masuk kelas pun berdering.
@@@@
Sore ini, aku dan Bela memutuskan buat jalan-jalan ke sungai di dekat rumah nenek Bela. Aku sudah pernah kesana sebelumnya dan terus terang saja, tempat itu sangat menakjubkan. Ada banyak batu besar di sungai itu dan kamu bisa duduk-duduk di atas batu-batu itu sambil mengobrol. Itulah yang paling aku sukai dari alam.
“Nanti, aku mau buat rumah di pingir sungai ini.” Ungkap Bela. Dia memang bercita-cita menjadi arsitek. Sedangkan aku, masih belum memutuskan.
Bela duduk dihadapanku dengan celana pendek pink-nya dan kakinya yang dia celupkan ke sungai. Aku sendiri memilih untuk duduk bersila dan menjauhkan kaki-ku dari air sungai. Aku ingin menceburkan diri nanti saja ke sungai ini.
“Kamu seharusnya udah nentuin mau jadi apa, Lun!” kata Bela lagi.
Aku tersenyum kemudian memikirkan salah satu cita-cita yang sering aku dengar dilontarkan oleh tetanggaku yang masih berumur enam tahun.
“Mungkin aku bakal jadi guru. Atau penulis. Atau malah keduanya!” jawabku mantap. “Yang jelas, aku pengen menghindari pekerjaan yang perlu skill menghitung! I hate that…”
Bela tertawa nyaring. Lalu kami pun terdiam. Satu detik, dua detik, tiga detik. Kami berdua hanyut dalam indahnya buaian alam. Tapi akhirnya, Bela lagi yang memecah keheningan.
“Kamu malu ya, temenan sama aku?” tanya Bela.
Aku kaget. “Kenapa harus malu?”
“Masalahnya, aku selalu ngerasa kamu selalu berusaha menjauhkan aku dari Poppy dan kawan-kawannya. Apa kamu malu temenan sama orang yang sering kena ejek?”
“Aku nggak malu, Bel.” Jawabku.
“Trus?”
“Aku cuman takut kalau suatu waktu kamu tidak tahan trus ngelakuin hal gila. Aku nggak suka lihat kamu kayak gitu! Jadi lebih baik mereka dihindari…”
“Aku nggak apa-apa kok… Biarin aja mereka kayak gitu. Mereka hanya sekelompok orang yang pengen mengungkapkan pendapatnya. Ini negara demokrasi lho, Lun…”
“Yah, tapi demokrasi kan nggak kayak itu…” kataku.
“Lun, aku bangga pada nama yang diberikan orang tuaku. Aku bangga mereka membandingkanku dengan hutan belantara. Kamu tahu hutan belantara seperti apa?”
Aku mengangguk. “Itu tempat buat hewan-hewan tertentu untuk berlindung… tempat semua pohon bisa tumbuh dengan subur tanpa gangguan dari manusia…”
“Yep. Hutan punya peranan penting dalam siklus kehidupan. Coba kamu bayangkan kalau tidak ada hutan? Kamu mau menghirup uadara yang nyampur sama asap kendaraan?”
Aku menggeleng.
“Aku pengen jadi kayak hutan. Aku pengen jadi paru-paru dunia! Yang selalu bisa membantu banyak makhluk di muka bumi ini.” Kata Bela. “Sebenernya masih banyak banget yang belum aku tahu tentang hutan. Makanya, aku mungkin juga akan jadi ahli kehutanan!”
“Gimana caranya, Bel?” tanyaku.
“Pasti ada caranya! Tenang aja…”
Kami berdua kembali terdiam. Aku malu karena sudah salah menilai sahabatku. Aku pikir dia cewek yang lemah. Sebelumnya, aku belum pernah mendengar pendapatnya tentang ejekan teman-teman di sekolah. Aku hanya menerka-nerka dengan akalku yang super terbatas.
“Apa kamu takut, Lun, kalo nanti kamu juga akan kena ejek?” tanya Bela.
Pertanyaan ini membuatku lebih kaget lagi. Aku tidak pernah menyangka kalau Bela ternyata bisa membaca pikiran. Tapi aku memutuskan untuk jujur. Sama seperti Bela yang sudah sangat jujur padaku selama ini.
“Jelas ada, Bel.” Jawabku hati-hati. “Aku takut, aku juga akan kena…”
Bela malah tersenyum. “Tenang aja, Lun. Kalo mereka berani nyentuh kamu, pasti deh saat itu aku akan berubah gila. Akan aku tunjukkan pada mereka siapa Hutan Belantara sebenarnya!”
Aku dan Bela tertawa. Aku lalu mencelupkan kaki-ku ke air sungai. Kesejukan langsung menusuk tulang-tulangku dan aku bahagia bisa merasakan semua ini bersama sahabatku, Si Nona Hutan Belantara.

Hello, Hate to See You Again!


Ini cerita lama. Aku iseng saja membuka tulisan lamaku. Ide yang aku tuangkan sekitar setahun yang lalu. Tepat bulan Oktober juga dan persis sama perasaan yang aku alami. Ketakutan tidak jelas yang membuat hidupku kacau. Ketakutan yang bisa saja membuat masa depanku menghilang.

Entah kenapa aku merasakan hal seperti ini. Ketakutan tidak nyata, ketakutan yang hanya ada dalam pikiranku saja. Aku menjadi galau. Hilang semangat. Bahkan hilang keinginan untuk meneruskan hidupku ini. Kelihatannya lebih indah bila menjadi roh yang mengambang. Tidak ada perasaan terikat pada keduniawian. Aku mencari ketenangan.

Aku sadar, ada yang salah dalam diriku. Hal salah yang entah apa penyebabnya. Ketakutan ini mungkin saja kumpulan dari seluruh pengalaman buruk dalam hidupku sejak bertahun-tahun yang lalu. Perlu pengamatan dan pengobatan yang tepat untuk itu. Tapi apakah itu?

Berbagai hal sudah aku coba. Misalnya, aku mengingat kembali apa saja yang aku lakukan di masa lalu saat ketakutan tidak nyata ini muncul. Aku pergi berkeliling ke tempat yang hijau di daerah utara Badung sana. Aku mencoba memerhatikan semua pemandangan alami itu untuk mengubah pikiran burukku. Kadang-kadang berhasil.

Sayangnya, hanya hal itu yang baru aku coba… Ke depannya, aku akan berusaha lagi memikirkan apa saja yang aku lakukan dulu. Apa saja yang membuat aku berpikiran positif. Terus terang, di masa lalu aku adalah orang yang positif. Tidak ada yang namanya aku yang ketakutan oleh hal-hal tidak jelas! Aku mau merdeka dari perasaan ini dan aku akan mulai memikirkan apa saja yang dulu aku lakukan di saat aku masih orang yang positif dan optimis!

Abs, 30/10/11

Jumat, 02 September 2011

Memangnya Kenapa Kalau Ibuku Mantan Pelacur?!

Sebuah cerpen….
Oleh: Nimade Aryanti M.

Aku kembali melakukan kebiasaan yang sudah aku lakukan sejak delapan hari yang lalu: duduk di samping meja resepsionis di sekolahku. Kalau saja ini sekolahku yang lama, maka aku tidak perlu duduk disini.
Aku pasti sudah meluncur dengan skateboardku dan sampai di rumah sebelum serial Avatar dimulai. Sayangnya aku anak baru di SD ini dan aku tidak punya teman dan aku tidak tahu jalan pulang.
“Have you had lunch, Jordan?” tanya Mbak Resepsionis padaku. Dia wanita muda yang sangat baik dan dialah yang memberikan kursi khusus yang aku duduki sejak hari pertama aku tiba di sekolah ini.
“Yeah, thank you!” jawabku. Aku selalu bergairah mengobrol dengan kakak ini. Pengetahuannya tentang tempat-tempat asik sangat luas. “What about you?”
“I already have!” jawab Mbak Resepsionis. “Cinta is your classmate, right? Her birthday is today!”
“I know.” Sebenarnya aku ingin mengajukan pertanyaan lagi tentang tempat apalagi yang dia ketahui.
Tapi tiba-tiba saja telepon di sampingnya berdering dan kemudian dia disibukkan oleh orang yang menelpon itu serta beberapa orang tua yang sepertinya tidak sabaran menanti kepulangan anaknya. Padahal sebenarnya anak-anaknya itu sedang berlarian di halaman belakang sekolah!
Perhatianku kemudian beralih kepada tiga orang ibu-ibu yang duduk di kursi tunggu dihadapanku. Aku sering melihat mereka dan menurutku penampilan mereka sangat berlebihan. Mereka berdandan seolah-olah mereka masih SMA saja. Ibuku di rumah tidak seperti itu.
“Aduh, kemaren aku pergi ke salon buat merapikan rambut. Eehhh… hairdressernya malah memotong rambutku terlalu pendek!” ucap ibu dengan yellow dress yang super tipis dan super mini.
“Di salon mana? Blokir aja deh tempat itu!” kata ibu di sebelahnya yang tidak kalah gila. Dia mengenakan mini black dress dengan high heels super tinggi.
Wanita yang satunya lagi hanya tersenyum, lalu berkata, “Sudah, tapi terlihat tetap cantik kok!”
Wanita ini memang tidak berdandan terlalu menor. Hanya saja, aku tidak terlalu suka tatapan matanya yang terlihat sangat jahat. Meski aku masih kelas enam SD, tapi aku tahu tatapan mata yang seperti itu. Aku pernah bertemu dengan wanita seperti itu dulu sekali.
Tiba-tiba saja si Yellow Dress mengalihkan pembicaraan. “Eh, anak yang duduk di depan kita ini kan anaknya si itu!”
Aku menoleh ke Mbak Resepsionis, mengira kalau yang dia bicarakan adalah kakak yang sedang sibuk menelpon itu. Tapi rasa-rasanya mustahil bila di yellow dress menggambarkan Mbak Resepsionis sebagai ‘anak’. Seharusnya istilah yang dipakai ‘mbak’ atau ‘wanita itu’.
“Iya, itu anaknya si Santi!” ucap si Mata Jahat. Barulah di saat nama ini disebut aku sadar kalau yang mereka bicarakan adalah aku. Santi itu nama ibuku.
“James kok mau nikah sana Santi. Padahal udah tahu latar belakangnya kayak apa!” imbuh si mata jahat. James itu nama ayahku.
Anehnya, mereka membicarakan aku tanpa menolehku ke tempatku duduk sama sekali. Sempat sih, mereka sesekali melirik ke arahku. Tapi ketika tatapan mata kami bertemu, mereka selalu berpaling.
“Wajahnya mirip banget sama Santi.” ucap Yellow Dress.
“Mudah-mudahan aja nggak mewarisi sifat Santi!” ujar si Mata Jahat. Kemudian dia melanjutkan dengan kata-kata yang sangat membuat sakit. “James goblok banget mau nikah sama Santi!”
“Memangnya kenapa?” Mini Black Dress kaget.
Si Mata Jahat mengehal nafas panjang, tanda putus asa. “Masa kamu, nggak tahu?! Santi kan dulunya pelacur!”
Kata ‘pelacur’ itu meluncur tanpa hambatan. Seolah-olah dia sudah sering sekali mengucapkannya.
Dan aku benci itu. Aku marah karena wanita gila itu mengatakan ibuku pelacur. Ingin sekali rasanya aku bangkit dan memberikan bogem mentah pada ketiga nenek sihir itu. Apa mereka pikir aku tidak mengerti isi percakapan mereka?
Tapi kalimat berikutnya yang dilontarkan Yellow Dress membuatku terhenti.
“Lihat aja anak pertamanya. Nggak mirip James kan? Itu anak siapa nggak ada yang tahu! Duh, masa kamu nggak nyadar sih kalau dulu Santi dapet duit dengan cara jual diri!”
Aku akui kakakku, Jason memang tidak mirip Papa. Kulitnya gelap sekali. Tapi itu pun karena Jason suka sekali surfing dan berkeliaran di pantai. Jadi wajar saja kalau dia menjadi seperti itu.
Percakapan para nenek sihir tidak dapat aku dengar lagi. Soalnya, paman yang menjemputku sudah datang.
@@@@@@
Malam itu aku memperhatikan segala gerak-gerik ibuku. Aku harus memastikan kalau perkataan para nenek sihir itu tidak benar. Rasanya mustahil sekali kalau ibuku punya masa lalu kelam seperti itu.
Mana mungkin, ibu yang masakannya paling enak dituduh sebagai pelacur? Ibu yang merawatku saat sakit, ibu yang menghiburku waktu nilai matematika-ku jebol, ibu yang begitu baik. Mana mungkin seorang pelacur?
Ibu rupanya sadar apa yang aku lakukan. “What’s wrong, honey?” tanyanya.
“Nothing, Mom!”
Aku segera naik ke kamarku dan memutuskan untuk melupakan perkataan para nenek sihir dan mengerjakan PR-ku saja.
@@@@@@
Keesokan harinya, setelah merapikan tempat tidurku dengan setengah hati, aku menyeret tubuhku ke kamar mandi. Aku sudah membereskan buku pelajaran untuk hari ini tadi malam, jadi saat selesai mengenakan pakaian seragamku, aku beranjak turun.
Belum sampai di meja makan, aku mendengar ibuku mengeraskan suaranya.
“Bagaimana kalau Jordan sampai tahu?” kata ibu dengan suara lumayan keras.
“Tidak akan mungkin! Jordan kan tidak kenal Nadia?!” ucap ayahku, menenangkan.
“Aku tidak mau Jordan tahu dari Nadia siapa aku dulunya. Aku takut Jordan akan malu kalau dia sampai tahu ibunya dulu seorang pelacur!”
Kata terakhir itu seperti petir buatku. Aku lemas berdiri di atas anak tangga. Jadi ibuku dulu memang pelacur? Jadi para nenek sihir itu benar? Jadi mungkin saja Jason bukan kakak kandungku?
Aku baru turun ke meja makan saat percakapan kedua orang tuaku berakhir. Sarapan yang dibuatkan ibuku tidak aku sentuh sama sekali. Ada rasa marah dan kesal yang benar-benar aneh. Aku marah pada para nenek sihir itu, pada ibuku, dan aku paling marah pada diriku sendiri.
Tapi aku tidak tahu kenapa aku bisa semarah itu pada diriku sendiri.
Karena diliputi rasa itu, aku sampai lupa membawa bekal makan siangku. Jadi waktu jam istirahat tiba, aku hanya bisa bengong di bangku taman sekolah.
“Why are you here?” tanya Mbak Resepsionis, yang entah bagaimana bisa ada dihadapanku.
Aku tersenyum.
“Are you okay? Maybe you should go to the clinic?” ucap Mbak Resepsionis. “Oh, ya. Sebenarnya kamu mengerti bahasa Indonesia, kan?”
Aku kaget. “Darimana kakak tahu?”
“Nah, itu tadi kamu baru ngasi tahu!” ucap Mbak Resepsionis.
“Kakak sudah lama kerja disini?” tanyaku. Aku mencoba mengalihkan perhatianku. Berharap cerita dari kakak itu dapat memberikan ketenangan buatku.
“Sudah. Tepatnya sejak suami kakak masuk penjara!”
“Masuk penjara?”
“Iya. Suami kakak membunuh atasannya.”
“Kenapa kakak tidak menikah lagi?”
“Kakak tidak akan menikah lagi. Bagaimana mungkin kakak menikah lagi, sementara orang yang kakak sayang ada di dalam penjara?!” kata Mbak Resepsionis.
“Tapi kan…”
“Suamiku pembunuh? Ya, dia memang pembunuh. Tapi dia punya alasan kenapa berbuat seperti itu!”
Tiba-tiba saja aku tahu apa yang harus aku lakukan. Jadi siang itu, setelah sekolah bubar aku langsung mencari bayangan ketiga penyihir itu.
Ternyata mereka sedang duduk di bangku taman di dekat kolam renang. Tanpa ragu, aku langsung menghampiri mereka dan mengatakan apa yang harus aku katakan.
“Memangnya kenapa kalau ibuku dulu pelacur?” ujarku.
Mereka memandangiku seolah-olah aku ini alien. Jadi aku meneruskan misiku.
“Ibuku lebih baik daripada kalian. Dia tidak menghina orang lain seperti yang kalian lakukan! Kalian tidak malu, ya, tidak bisa merubah sikap kalian itu?! Setidaknya sekarang ibuku sudah berubah!!!” lanjutku mantap.
Aku sendiri sadar, arah pembicaraanku sangat kacau. Tapi paling tidak para nenek sihir itu tahu kalau aku tahu penghinaan mereka terhadap ibuku. Aku yang akan membela ibuku di garis depan kalau ada yang menyakitinya. Aku tidak peduli siapa ibuku di masa lalu!
Setelah menyelesaikan kewajibanku, aku segera berlari menuju paman yang sudah siaga mengantarku pulang.
Sebelum mobil beranjak, aku meminta paman singgah di toko bunga terdekat. Aku ingin memberikan sekuntum bunga untuk ibuku tersayang.
@@@@@@



Kamis, 18 Agustus 2011

Kenapa Mereka Tidak Mau Mengerti?


Aku memulai lembaran baru lagi. Dan sebagai anak baru, ada banyak hal yang masih perlu aku pelajari. Ini sama seperti ketika aku datang ke stasiun TV itu dan menjadi reporternya. Aku belajar dari nol dengan jumlah kesalahan yang hampir menyamai tingginya gunung. Ada beberapa orang yang tidak bisa menerima aku apa adanya. Maksudku, mereka berharap aku tampil sempurna tanpa cacat satu titik pun!

Hal yang sama aku dapatkan juga di lembaran baruku. Ada banyak orang yang mendukungku. Tapi tidak sedikit yang meremehkan dan malah tidak bisa menerima segala cela yang aku tunjukkan dan pamerkan kepada mereka. Kenapa aku bisa tahu? Aku hanya menerka dari nada suara mereka. Jutek, bo!

Aku tidak pernah mengerti, kenapa ada orang yang begitu egois dan tidak mau melihat dari sudut pandang seseorang. Apa susahnya sih hanya membalikkan keadaan sebentar saja dan berpikir bagaimana kalau mereka ada di posisiku? Mungkin bagi orang yang merasa dirinya sudah hebat dan di atas, hal tersebut seperti meloncat dari lantai 26! Alias ketika sampai di bawah kau hancur dan seluruh kebanggaanmu juga musnah.

Yang aku tahu, mereka yang tidak mau mengerti posisiku itu, juga orang beragama dan bahkan aku sering melihat tanda yang menunjukkan rasa bakti mereka pada Tuhan. Tapi apa mereka tidak malu memperlakukan orang lain buruk setelah menunjukkan rasa bakti kepada Tuhan Yang Maha Esa?

Situasi yang sama tidak hanya berlaku untukku saja. Tapi untuk banyak orang yang merasa diinjak dan tidak mau didengar. Lihat deh orang yang hidupnya masih aja miskin. Makan tidak bisa, apalagi sekolah. Mereka itu adalah contoh orang yang tidak mau dimengerti oleh sang pemegang kekuasaan.

Aku hanya berharap, manusia di bumi ini mau mengerti sesamanya sedikit saja. Oke, aku mengerti kalau mereka itu orang hebat. Tapi tidak bisakah sedikit saja orang hebat itu berbaik hati dan mau mengerti orang yang tidak hebat seperti diriku

Jumat, 17 Juni 2011

Resistensi Capek Ada Batasnya, Bu!


Capek, capek, capek, dan capek! Inilah yang aku keluhkan ke ibuku selama beberapa hari belakangan ini. Ibu hanya bilang kalau bekerja memang seperti itu. Sebagai pekerja kita selalu berteman sama rasa capek. Aku akan bisa menerima ucapan ibuku itu, kalau saja aku dapat libur sehari dalam seminggu!

Selama tiga bulan bekerja aku belum dapat libur sama sekali dan anehnya, ada yang ingin agar pekerjaanku sempurna tanpa cela sedikitpun! Aku juga manusia dan aku perlu istirahat, jadi wajar dong kalau hasil kerjaku menurun. Memang aku sudah pernah libur selama dua hari. Tapi itu pun aku ambil libur karena memang sakit. Tambahan pula, libur dua hari itu tidak akan bisa mengganti kerja penuhku selama hampir tiga bulan.

Jadi lantas apa salah aku kehilangan konsentrasi? Aku rasa itu hal manusiawi. Aku juga tidak pantas dibandingkan dengan yang lain, yang konsentrasinya masih bagus meski sudah kerja gila-gilaan. Yang aku tahu, Tuhan menciptakan manusia dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Aku jelas beda dengan yang lain!

Ada hal berharga yang bisa aku pelajari disini: jangan percaya sama orang dengan melihat penampilannya saja. Soalnya belum tentu orang itu mau mengerti apa yang kamu rasakan dan ternyata, nyari duit itu tantangannya lebih dahsyat ketimbang nulis skripsi! Hohoho…

Abs, 06/06/11

Rabu, 08 Juni 2011

Kompor Meleduk

Di sarangku yang sederhana, ada sebuah kompor
Aku sering memanfaatkan benda ini untuk mendukung aktivitasku
Bangga, rasanya punya kompor yang ramah lingkungan
Atau awalnya saja aku bangga

Sehari, dua hari, tiga hari, hingga hampir tiga bulan
Kompor kesayanganku baik-baik saja
Sumbunya masih belum kotor
Dan nyala apinya juga begitu indah, menghangatkan

Tapi bulan keempat, komporku mulai aneh
Dimulai dengan lidahnya yang menjulur
Lalu tiba-tiba saja lidahnya itu menyambarku
Bukan main-main, dia menyambar tanganku yang berharga

Aku tidak dapat menggenggam
Aku tidak bisa makan
Aku kesakitan
Dan tentu saja karena dia kompor jadi tidak akan mengerti

Aku tidak punya pilihan lain untuk memasak
Jadi mau tidak mau aku tetap menggunakan kompor itu
Pikirku, dia sudah menjinak
Tapi ternyata dia menjadi semakin dahsyat

Bagai dewa baruna sang penguasa lautan
Kompor menyerangku
Tanpa ampun dia memuntahkan kemarahannya
Dia meleduk, meledak, menghancurkan hingga ke ulu hatiku

Hingga aku sadar
Kompor tetaplah kompor
Jangan berharap kompor akan membantumu sepenuh hatinya
Karena kompor, ya, tetaplah kompor

Minggu, 05 Juni 2011

Akhirnya, Ketemu Juga…


Kemenangan yang indah. Seperti Alexander The Great, yang berhasil menaklukkan lawannya. Layaknya Yuri Gagarin yang melihat bulan dari dekat. Rasanya mungkin seperti itu. Meski, kemenanganku cuma pada penemuan terhadap sebuah lagu yang sudah dari dulu aku cari. Hohoho…

Ternyata judul lagu itu Bitter Sweet Symphony. Yang nyanyiin The Verve (Krisna, GBU). Lagu ini pertama kali aku denger waktu nonton film ‘Cruel Temptation.’ Bukan film Korea tapi film Hollywood yang salah pemerannya Reese Witherspoon. Aktris ini terkenal lewat perannya di film Legally Bloond. Bener dhe, sudah sekian ratus hari aku ngidam sama Bitter Sweet Symphony.

Aku bukannya tanpa usaha buat menemukan lagu ini. Om google sudah aku obrak-abrik. Tapi om google kayaknya lagi sakit, makanya nggak bias ketemu. Only to find this fuckin’ song, aku jadi menggila. Karena tahu sudah tidak bias berbuat apa-apa lagi, maka aku berhenti dengan harapan suatu hari nanti, aku bakal benar-benar ketemu sama lagu ini.

Cruel Temptation sendiri sebenarnya lebih mengarah ke komedi seksual. Tapi yang menarik, tokoh yang diperankan sama Reese. Dia ini cewek yang berusaha mempertahankan keyakinannya dan menentang sang lawan main (aku lupa nama aktornya. Tapi yang jelas akhirnya Reese sama actor ini menikah meski sekitar tahun 2006-2007 mereka bercerai).

Tapi akhirnya semua pecah karena cinta. Memang sih idenya sederhana banget. Dan bahkan yang bikin film ini banyak letupan adalah adegan seksualnya. Hohoho… Aku paling suka di bagian akhir film ini dimana Reese terbebas dari keyakinan yang selama ini mengurungnya. Dan backsound dari adegan itu adalah Bitter Sweet Symphony by The Verve.

Finally I have the song. Aku bisa bilang kalau hukum ketertarikan bekerja disini. Ya, banget! Aku begitu pengen lagu ini dan meski pada suatu titik aku sempat berhenti tapi sebenarnya aku masih merindu ingin punya lagu ini. Dan kemudian bersama angin lagu ini terbang kepadaku.

Abs, 03/06/11

Kamis, 02 Juni 2011

Bali World Culture Forum: Big Idea from Small Island


Pemerintah daerah Bali lewat Dinas Kebudayaannya akan menggelar Bali World Culture Forum-Bali WCF selama lima hari dari tanggal 11 sampai 15 Juni 2011 ini. Kepala Dinas Kebudayaan Bali, I Ketut Suastika, saat jumpa pers pada (31/5) di Ruang Rapat Disbud Bali, menjelaskan, Bali WCF muncul dari gagasan para tokoh bidang kebudayaan dan pariwisata yang ingin lebih mengenalkan objek wisata serta budaya Bali kepada dunia luar. Pemerintah Bali ingin menciptakan event yang sekelas dengan World Economic Forum.

“Bali World Culture Forum merupakan embrio dari penyelenggaraan Indonesia World Culture Forum pada tahun 2012. Sebenarnya Bapak Presiden sudah menyinggung rencana ini sejak 2008 saat beliau menyampaiakan pidato pada Hari Kebangkitan Nasional. Namun, karena beberapa pertimbangan rencana itu baru akan dilaksanakan pada 2012.” jelas Ketut Suastika.

Gubernur Bali rupanya melihat penyelenggaraan Indonesia World Culture Forum sebagai langkah yang tepat untuk tidak melewatkan momen 2011 guna menyelenggarakan Bali World Culture Forum. Nantinya, diharapkan rumusan yang dihasilkan dalam Bali WCF 2011 dapat memperkaya Indonesia WCF 2012 sehingga hasil yang didapatkan lebih memiliki makna.

Selain itu, acara ini dapat menjadi cerminan bagi Bali untuk melihat semua kekurangan yang dimilikinya dalam mengelola pariwisata serta menjaga budayanya di era globalisasi sebab budaya merupakan salah satu produk pariwisata. “Penting sekali melihat pandangan dunia luar tentang bagaimana seharusnya pengelolaan terhadap kebudayaan. Kita juga ingin mendapat masukan yang lebih banyak melalui kedekatan budaya.” ungkap Ketut Suastika.

Lewat event internasional ini, Bali juga ingin memberikan sumbangan ide dan pikiran pada dunia. Oleh karena itu, tema yang diangkat dalam Bali WCF ini adalah Tri Kaya Parisudha: Morality and Ethics in New Global Culture. Tri Kaya Parisudha sendiri sudah teraktualisasi pada spirit agama dalam aktivitas budaya masyarakat Bali. Bila konsep ini dilaksanakan, tumbuh kehidupan berbudaya sehingga membawa kehidupan ke arah yang harmonis dan damai dalam masyarakat yang heterogen.

Bali World Culture Forum akan dibuka oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, bersamaan dengan pembukaan Pesta Kesenian Bali yang ke 33 pada 10 Juni mendatang di Taman Budaya Art Centre Denpasar, dengan pengaturan jadwal yaitu 2 hari pelaksanaan forum atau conference yang akan dipusatkan di Sanur dan 2 hari kunjungan ke objek sejarah dan budaya di Bali, diantaranya Jatiluwih, Taman Ayun, Pura Tampak Siring, Museum, dan Puri-Puri Bersejarah.

Ketut Suastika menyatakan bahwa ada alasan istimewa kenapa Tampak Siring, Jatiluwih dan Taman Ayun dimasukkan ke dalam jadwal Bali WCF. “Salah satu pembicara dalam forum ini merupakan perwakilan dari UNESCO jadi kita mengharapkan lembaga itu akan bekerja lebih cepat untuk menetapkan ketiga objek tadi sebagai Wolrd Heritage List.” Jelasnya. Penetapan ketiga daerah tadi sebagai Warisan Dunia akan membantu dalam pengembangan objek-objek tersebut sebagai destinasi pariwisata dunia.

Setelah pelaksanaan Bali WCF ini, pemerintah Bali akan membuat action plan untuk benar-benar melaksanakan hasil rumusan dalam forum yang dilaksanakan ini. Pembicara untuk forum ini sendiri merupakan pembicara dari dalam dan luar negeri. Salah satu yang akan berpartisipasi adalah Gubernur Bali, yang akan membawa topik, ‘Cultural Based Development: Bali’s Experience.’ Pembicara lain diantaranya Jro Wacik, Prof Hubert Gijzen dari UNESCO, serta I Made Bandem. Negara-negara yang sudah menyatakan kesanggupannya untuk hadir dan mengirimkan delegasi diantaranya Italia, Belanda, Prancis, Singapura, Malaysia, Italia, Kanada, Amerika, Jepang, dan Korea. Sampai saat ini, menurut Ketut Suastika, sudah ada 200 lebih peserta yang siap menghadiri Bali World Culture Forum.

Personal comment:
Aku suka sekali pada ide yang terselip dalam penyelenggraan Bali World Culture Forum: memberikan ide besar pada dunia! Padahal, faktanya nih, Bali itu pulau yang kecil banget! Dengan dilaksanakannya even ini, aku berharap masyarakat Bali benar-benar bisa memberikan sesuatu pada dunia. Sehingga, orang bali bisa menjadi orang dengan gagasan besar dan mulia meski tinggal di pulau yang kecil. (^_^)V…

Terus terang, waktu aku ngeliput press conference ini aku sedang tidak enak badan. Tapi waktu mendengar penjelasan tentang Bali WCF, semangatku langsung bangkit. Meski, seusai acara aku lemas lagi…. 

Kamis, 19 Mei 2011

Misiku Tahun Ini


Sudah bulan Mei, bahkan ulang tahunku pun baru saja lewat. Tapi, aku baru sempat menuliskan apa saja misiku buat tahun ini. Semuanya sederhana saja. Apalagi sekarang aku sudah bekerja. Aku jelas ingin meningkatkan kualitasku di bidang yang aku tekuni sekarang.

Terus terang saja, aku terlibat di bidang ini (aku jadi reporter) secara tidak sengaja. Awalnya sih, aku mengalami banyak sekali kesulitan (hal yang wajar apalagi kalau kamu benar-benar baru di suatu bidang dan bidang itu bukan bidang yang kamu pelajari saat masih kuliah). Untungnya, ada banyak banget yang mendukung. Aku sampai hari ini, detik ini, sangat sangat sangat menikmati apa yang aku geluti.

Ternyata dunia jurnalistik begitu menarik. Dan tentu saja, aku harus banyak menulis dan membaca. Dua hal yang paling aku cintai di muka bumi. Aku seperti terbang ke surga setelah selama satu setengah bulan mendiami neraka (ini di tempat yang kerja yang dulu: Universitas Mahendradatta Denpasar – cuma orang bodoh yang tahan kerja disana). Aku bertekad untuk terus mengembangkan keahlianku dan aku ingin menjadikan profesi reporter sebagai identitasku.

Berikutnya, tidak jauh-jauh juga dari dunia tulis menulis dan baca membaca. Aku akan menyelesaikan semua sinopsis yang masih mangkrak di blog-ku – Dunianya Mey. Ada banyak banget sinopsis yang baru setengah jalan. Memang ada sekitar puluhan sinopsis yang masih menunggu untuk diterjemahkan. Aku akan bersabar dan menerjemahkannya satu per satu. Aku tahu, ini mungkin buang-buang waktu.

Kenapa tidak copy saja dari blog lain? Memang ada pikiran kesana. Tapi kalau aku lakukan itu, aku merasa pekerjaanku akan sia-sia. Aku tahu aku tidak akan merasakan nikmati dari pekerjaanku. Makanya aku ingin melakukannya sendiri. Semua yang dilakukan sendiri, rasanya lebih nikmat saat dirasa.

Aku senang waktu orang membaca hasil terjemahanku dan mengatakan mereka semakin mengerti ceritanya. Bukankah itu artinya aku sudah cukup cekatan dalam nenerjemahkan (mata kuliah translation waktu masih di Univresitas sangat aku takuti, apalagi dosennya cukup angker)? Hal lainnya karena aku tidak mau kehilangan kemampuan bahasa inggrisku. Aku punya gelar sastra di bidang bahasa inggris dan rasanya bakal sangat aneh kalau aku lupa bagaimana bicara dan menulis dalam English. So, embarrassing!

Tahun ini akan menjadi tahun yang penuh tantangan dan banyak pelajaran yang akan aku dapat. Aku berniat besar akan menyelesaikan misiku itu. Tapi, ada beberapa misi yang tidak dan belum ingin aku bagi disini. Ada banyak banget rencana dalam hidupku….

Jumat, 06 Mei 2011

Bunga Menangis

Bunga itu menangis saat aku dekati
Dia ketakutan karena langit tidak menurunkan hujan
katanya akar-akarnya sudah terluka
Menggali menembus tanah yang keras

Bunga itu bilang pohon-pohon sudah lama mati
Yang tersisa sekarang hanya ranting
Kulit-kulit pohon pun mulai terkelupas
Dan terik matahari tidak bisa dihindari lagi

Banyak rumput yang tumbuh mengelilingi bunga
Tapi mereka tidak lebih tinggi 'tuk melindungi
Mereka bahkan hanya bisa berjanji
Tanpa pernah sekali pun menepati

Sekarang bunga hanya bisa berharap
Langit semoga menurunkan hujan
Kejaiban agar menghampiri pohon-pohon
Dan rumput tidak hanya bisa berjanji saja

Aku dan Impianku

Impianku yang membumbung tinggi
Dicengkram oleh tangannya yang kuat
Mimpiku terbang melambat
Bagaikan balon yang tertusuk duri

Aku berusaha membebaskan impianku
Tapi cengkraman tangannya semakin penuh tenaga
Mungkin kekalahan sudah di depan mata
Aku harus bersiap melihat impianku jadi debu

Tapi... aku sadar
Untuk bebas dari cengkraman tangannya
Aku harus melepaskan impian yang membumbung itu
Karena sebenarnya impianku dan aku merupakan satu jiwa

Sabtu, 30 April 2011

Lima Menit

Hari ini selama lima menit dunia berhenti berputar
Jantungku terasa nyeri
Jari-jari kaki dan tanganku kaku
Aku seperti terjatuh ke jurang

Rasanya dunia tidak adil
Kenapa dia harus raib?
Apa dunia tidak mau menelan orang lain saja?
Dia begitu berharga

Dunia seharusnya menyatukan kami
Kami satu cinta dan satu hati
Kami adalah air yang menyejukkan
Dia dan aku adalah matahari pagi yang hangat

Bukan Kamu Namanya Kalau Menyerah

Baru-baru ini, aku memposting status yang cukup aneh di facebook. Aneh, karena aku salah memilih kata kerja. Statusku seperti ini: bagaimana cara makan gajah? Satu gigitan dalam satu waktu. Padahal aku tidak ingin menyelidikan bagaimana gajah mengonsumsi makanannya. Tapi statusku itu seharusnya: bagaimana cara memakan gajah? Satu gigitan dalam satu waktu.

Pesan ini sebenarnya kata bijak yang aku temukan di buku lama yang aku pinjam di perpustakaan daerah. Memang agak jail kedengarannya, tapi aku suka sekali makna yang terkandung di balik kalimat ini. Kalau kamu disodorkan daging sebesar gajah, bagaimana caramu menghabiskannya?

Hal yang sama berlaku untuk setiap impian dan cita-cita yang kamu rajut. Bagaimana caramu meraih impianmu yang besar dan tinggi? Lihat saja bagaimana cara memakan gajah di atas. Setiap impian besar dan tinggi akan dapat dicapai dengan menapaki satu-satu tangga mimpimu. Sama saja seperti memakan gajah yang besar. Untuk menghabiskannya kamu perlu waktu dan untuk mencapai impianmu, kamu juga perlu waktu.

Kalau kamu menelan gajah begitu saja, maka kamu bakal tersedak. Kalau kamu langsung melesat ke atas maka saat sampai di puncak kamu bakal bingung. Kamu tidak tahu apa yang harus kamu lakukan dan ketika jatuh, maka rasanya akan sakit sekali.

Setiap impian harus ditempuh dengan menapaki setiap anak tangga mimpi. Mimpi yang sempurna adalah mimpi yang terdiri dari pengalaman dan pelajaran. Kedua hal inilah yang membuat mimpi menjadi matang dan rasanya akan nikmat ketika kita suap. Tidak ada orang yang dapat meraih mimpinya dalam satu malam. Kalau pun ada, menurutku mimpinya itu tidak akan bertahan lama.

Kamu mau kan, impian yang sudah kamu raih tetap abadi? Kalau memang iya, maka jangan pernah berhenti menapaki tangga mimpimu. Jangan mencari jalan pintas. Jalan pintas sama dengan menelan gajah sekalian. Kalau kamu menyerah artinya kamu tidak memanfaatkan dengan baik segala daya dan tenaga yang sudah Tuhan berikan. Tuhan tidak sembarangan memberikan daya dan tenaga pada kita. Tuhan punya tujuannya: Ia ingin kita mencapai semua yang kita cita-citakan. Bukan kamu namanya kalau menyerah! Ingatlah kalimat ini di kepalamu.

Minggu, 27 Maret 2011

Jangan Berhenti Memikirkanku

Mungkin langkahmu ada artinya
Jangan buat aku takut
Jadikan aku ratu yang lekat
Biarkan wajahku dalam pikiranmu berkuasa

Aku tidak seperti yang kau pikirkan
Aku tidak akan pernah merubah perasaan
Rasa ini sudah aku satukan
Hati ini telah seutuhnya aku serahkan

Jangan berhenti memikirkanku
Biarkan aku jadi bayangmu selalu
Penuhi hatimu dengan senyumku
Jadikan aku wanitamu

Sabtu, 26 Maret 2011

Jawab Aku

Aku seperti menyusuri jalan berkelok-kelok
Yang ujungnya sama sekali suram
Tapi waktu aku berbelok
Kamu disana berdiri diam

Aku ragu pada diam itu
Apakah matahari akan bersinar cerah?
Ataukah angin kencang akan menderu?
Sesuatu dalam dada ini resah

Bisakah matahari cerah saja?
Dan jauhkan saja sang badai
Buat aku merasa istimewa
Jadikan aku wanita sejati

Jumat, 25 Maret 2011

Bumi Bopeng-bopeng

Kalau setiap detik wajah bumi bisa dilihat dari ruang angkasa, maka akan terlihat dengan sangat jelas jika bumi sudah bopeng-bopeng dan rusak parah. Gempa bumi, tsunami, longsor, tornado, banjir, perang,. Semuanya adalah ‘jerawat’ yang membuat bumi terlihat bopeng.

Gempa bumi yang terjadi membuat tsunami muncul dan bahkan kabarnya dapat membuat sebuah pulau berpindah posisi. Banjir membawa kerugian yang tidak sedikit dengan menyapu semua benda dan harapan yang dilewatinya. Dan tornado menggulung rumah tempat manusia berteduh.

Yang paling mengerikan adalah perang. Baru saja umat manusia bersedih melihat perang yang melanda negeri-negeri di timur tengah, sekarang muncul lagi pesawat perang beberapa negara menghujani bom negara Libia. Memang sih, semua ada alasan yang mendukungnya. Tapi kalau ada pilihan lain yang tidak mewajibkan perang, kenapa bukan jalan itu yang diambil?

Perang dampaknya bukan saja kehilangan harta benda karena bom yang dijatuhkan dari pesawat tempur atau granat yang sengaja ditanam. Akan tetapi, ada banyak hal mengerikan yang biasanya mengikuti sebuah perang: pemerkosaan, musnahnya harapan dan yang terparah adalah hancurnya masa depan generasi muda sebuah bangsa.

Apa jadinya kalau sudah begitu? Bisa dipastikan masa depan bangsa itu untuk tahun-tahun berikutnya bakal hancur. Pengorbanan yang diperlukan untuk mengobati luka perang tidaklah sedikit dan tidak banyak yang bisa mengobati luka perang hingga benar-benar sembuh total.

Bayangkan saja permukaan bumi yang sudah di zoom. Yang bisa dilihat semua penghuninya bergerak bebas. Tidak dielakkan, akan dapat dilihat kalau darah sudah menjadi air sungai. Tubuh manusia sudah menjadi gunung. Tangisan sudah menjadi nyanyian sehari-hari. Dan bumi sudah bopeng karena dihantam bom.

Sabtu, 12 Maret 2011

BERHENTI BERUSAHA? – NO WAY!!!


‘Kalo kamu berhenti berusaha sekarang, kamu tidak akan pernah tahu apa yang bisa muncul dari usahamu di masa depan – A. Nelson.’

Aku mendapatkan kata bijak yang cantik banget. kata bijak ini sangat bagus buat kita yang lagi menjalani mimpi kita saat ini. Berhenti berusaha? Hapus deh frasa itu dari kamus hidup kamu. Ganti dengan kalimat ‘aku tidak akan berhenti berusaha sebab usahaku saat ini adalah mimpiku juga!’

Memang sih, nggak mudah menjalani mimpi kita. Apalagi terkadang kita mengalami naik turun dan kadang rasanya impian kita tidak akan pernah menjadi nyata. Aku sendiri masih bermimpi saat ini dan aku tidak akan berhenti berusaha untuk menggapai mimpiku. Aku belum memikirkan bagaimana kalau seandainya aku gagal meraih semua mimpiku. Yang aku pikirkan adalah kalau aku berhenti sekarang maka aku tidak akan dapat kesempatan lagi dan mungkin saja mimpiku benar-benar akan lenyap.

Aku berusaha memposisikan kalau mimpiku ada di suatu tempat di masa depan dan untuk sampai ke tempat itu, aku harus menempuh jalur yang sedang aku lalui sekarang. Jalanku sekarang memang cukup rumit. Aku ini reporter tapi sama sekali tidak punya pendidikan jurnalistik. Aku benar-benar belajar dari nol. Hanya saja, aku senang menjalani hidupku dan aku yakin kalau mimpi-mimpiku akan terwujud jika aku tetap pada jalanku yang sekarang.

Kamu mungkin punya pengalaman yang sama denganku. Tetap saja berusaha. Berikan yang terbaik untuk usahamu sekarang dan jangan pernah menyerah. Apapun yang kamu lakukan sekarang nggak akan sia-sia. Mereka semua – usaha kamu itu – bakal kelihatan manisnya suatu saat nanti. Aku yakin itu dan kamu semua juga harus begitu!

Kamis, 17 Februari 2011

Berhentilah Membatasi Dirimu!


Mulai hari ini, aku akan menambahkan sebuah rubrik baru di sarangku ini. Aku beri nama ‘Semangat.’ Dari namanya saja sudah jelas banget tujuan dari rubrik ini: aku ingin membagi semangatku sama semua orang dan aku berharap dengan berbagi semangat ini, aku bakal tetap dapat mempertahankan semangatku sendiri. Aku berharap, jika aku berbagi maka aku akan lebih ingat untuk terus membakar semangat dalam diriku!

Aku akan memulai dari sebuah kata bijak yang memang sering banget aku baca: “Kalau kamu membatasi pilihanmu hanya pada hal-hal yang kelihatannya mungkin atau masuk akal untuk dilakukan, berarti kamu nggak benar-benar mengejar yang kamu inginkan dan yang tertinggal hanyalah kompromi – Robert Fritz.”

Kadang-kadang hidup kita dipenuhi oleh banyak sekali keinginan dan harapan. Hal ini pasti juga diikuti oleh rasa yakin yang besar bahwa kita akan mampu mencapainya. Tapi lama-kelamaan, kita akan mulai kehilangan rasa yakin itu dan akan digantikan oleh banyak pertanyaan macam: apa aku bisa melakukannya? Aku kan belum berpengalaman?! Bagaimana mungkin orang yang nggak berpengalaman mampu melakukan hal seperti itu? Pada akhirnya, kamu akan memilih hal-hal yang memang menurut kamu mudah untuk kamu lakukan.

Nah, ini dia yang namanya membatasi diri. Kamu dipenuhi oleh pikiran kalau kamu tidak akan dapat melakukan atau mencapai sesuatu dan kamu mengalah dengan memilih hal yang kelihatannya mudah untuk kamu lakukan. Aku juga pernah mengalami yang seperti ini. Waktu wisuda tahun lalu, aku ditunjuk untuk menyampaikan pidato perpisahan di depan semua wisudawan dan wisudawati. Awalnya, aku yakin banget aku akan memberikan dan menampilkan yang terbaik. Tapi lama-kelamaan, aku mulai takut dengan tugas itu.

Di kepalaku mulai bertebaran pertanyaan ‘apakah aku akan mampu?’ atau ‘bagaimana kalau nanti gagal?’ atau yang lebih parah ‘bagaimana kalau aku tersandung sandalku yang hak-nya super tinggi?’ Aku jadi ketakutan sendiri. Bahkan hari itu aku sama sekali tidak mau menyentuh teks pidato yang sudah aku susun dengan baik. Aku menganggap diriku akan gagal dan aku tidak mampu!

Tapi kemudian aku berpikir lagi: aku kan belum mencoba. Bagaimana aku tahu kalau aku akan gagal? Memangnya aku ini manusia super apa, yang dengan hebatnya dapat memprediksi masa depan? Aku kalahkan semua rasa ragu dan pembatas dalam diriku. Aku maju ke depan dan membacakan pidatoku. Dan tahu nggak, tidak satu pun ketakutanku terjadi. Aku nggak tersandung. Aku malah mendapatkan applause yang meriah! Meski aku nggak seperti orator yang sudah berpengalaman, aku toh tampil lumayan dan itu adalah kebanggaan tersendiri sebab aku mampu menghancurkan tembok pembatas yang membentang dalam diriku. Tembok yang sering banget nggak memberikan banyak pilihan buatku.

Coba deh sekarang kita pikirkan lagi. Sebenarnya, kalau kita mampu mengalahkan semua pikiran negatif dalam diri kita dan maju terus tanpa mempedulikan mereka, nggak ada hal yang nggak bisa kita lakukan. Kita diciptakan hebat oleh Tuhan dan harus kita manfaatkan. Yang jadi masalah adalah pikiran kita yang ngwur kemana-mana. Memberikan bayangan negatif dan mengerikan sehingga membuat kita mundur sebelum melakukan sesuatu. Berhentilah percaya pada pikiran gila seperti itu maka kamu juga akan berhenti membatasi diri kamu! Pikiran yang seperti itu tidak akan pernah terjadi sebab itu toh hanya pikiran – bayangan yang nggak jelas riwayatnya!

Jadi, sekarang majulah dan cuekin semua pikiran gila yang menciptakan tembok yang membuat kamu terbatas. Kamu diciptakan hebat. So, jadilah orang hebat itu!!!

BREAKAWAY - KELLY CLARKSON

Grew up in a small town
And when the rain would fall down
I’d just stair out my window
Dreaming of what could be
And if I’d end up happy
I would pray
Trying hard to reach out
But when I try to speak out
Felt like no one could hear me
Wanted to belong here
But something felt so wrong here
So I’d pray
I could breakaway

I’ll spread my wings and I’ll learn how to fly
I’ll do what it takes ‘till I touch the sky
Make a wish, take a chance, make a change and breakaway
Out of the darkness and into the sun
But I won’t forget all the ones that I love
I’ll take a risk, take a chance, make a change and breakaway

Wanna feel the warm breeze
Sleep under a palm tree
Feel the rush of the ocean
Get on board a fast train
Travel on a jet plane
Far away and breakaway

I’ll spread my wings and I’ll learn how to fly
I’ll do what it takes ‘till I touch the sky
Make a wish, take a chance, make a change and breakaway
Out of the darkness and into the sun
But I won’t forget all the ones that I love
I’ll take a risk, take a chance, make a change and breakaway

Buildings with a hundred floors
Swinging ‘round revolving doors
Maybe I don’t know where they’ll take me
I gotta keep movin’ on movin’ on
Fly away
Breakaway

I’ll spread my wings and I’ll learn how to fly
Though it’s not easy to tell you good bye
Take a risk, take a chance, make a change, and breakaway
Out of the darkness and into the sun
But I won’t forget the place I come from
I gotta take a risk
Take a chance
Make a change
And breakaway

Template by:

Free Blog Templates