Senin, 11 Oktober 2010

Pagi Yang Hujan, Sepatu Yang Basah, dan Pengen Muntah

Aku bangun pagi banget hari ini dan aku langsung mendengar suara hujan di luar sana. Rasanya sangat pas menggambarkan keadaan jiwaku (yang kayaknya sejak bulan lalu selalu terguncang). Aku keluar kamar dan melihat sepatuku basah. Padahal seharusnya sepatuku yang itu nggak boleh kena air. Masalahnya, kulit palsunya bakal terkelupas.

Aku kembali masuk ke dalam kamar dan merasakan mual yang dahsyat dan aku benci ini. Perasaan ini bisa menandakan banyak hal. Bisa jadi ini bagian dari puncak stress-ku atau mungkin aku menderita penyakit kronis yang gejalanya diawali dengan muntah-muntah. Oh, apapun itu aku tidak mau terjadi. Aku mau tetap sehat.

Aku ingin menghadapi babak baru dalam hidupku yang aku tahu pasti berat sebab aku harus mulai segalanya dari awal lagi. Aku hanya ingin lewat babak yang ini aku akan mampu meraih mimpiku. Aku bukan orang yang hidup dengan mimpi setinggi langit. Aku cuma ingin jadi penulis. Aku ingin membagi apa yang aku tahu pada orang lain.

Aku ingin memberikan inspirasi buat orang lain meneruskan hidupnya sebab nggak bisa dipungkiri aku juga mendapatkan banyak inspirasi dari orang lain untuk meneruskan hidupku. Yeah, untuk meneruskan hidupku yang menurutku sangat datar.

Believe it or not, itulah yang aku pikiran setelah mendengar suara hujan, melihat sepatuku yang basah dan merasakan mual maha dahsyat!

Abs, 12/10/10

Senyuman Cinta

Cinta sangat kegirangan. Dia terlihat seperti baru saja memenangkan undian senilai 1 milyar. Tapi bukan itu yang membuatnya senang. Dia akan bertemu langsung dengan pria yang selama ini hanya dia sapa lewat akun facebook-nya.

Cinta mempersiapkan semuanya dengan baik. Dia mengenakan pakaian terbaiknya. Cinta bahkan sengaja membeli lulur paling mahal agar kulitnya terlihat kinclong. Dia sempat bertanya-tanya, “Kira-kira Dion bakal pake baju apa ya?”

Meski hanya kenal lewat Fb, tapi Cinta sudah sangat hafal dengan wajah Dion. Dia mengukir setiap jengkal wajah Dion di hatinya jadi dia tidak perlu meminta Dion mengenakan pakaian tertentu agar mudah dikenali. Cinta percaya pada dirinya dan kemampuannya mengenali Dion.

Cinta berangkat ke restoran yang sudah disetujui. Bahkan, saat di luar restoran dia terlihat sangat tidak sabar. Dia tersenyum sendiri.

Dan…disanalah Dion duduk. Dengan kemeja biru tua yang dibungkus jaket hitam. Cinta mulai melangkahkan kakinya ke meja itu. Tapi, tiba-tiba saja Cinta berhenti. Ada seorang gadis yang menghampiri Dion dan mereka terlihat luar biasa dekat dan mereka saling berpegangan tangan lalu Dion bangkit untuk pergi.

Cinta termenung. Dia tidak bisa mengatakan apa-apa. Dia juga tidak bisa melakukan apa-apa. Ini seperti bom Hiroshima. Bahkan mungkin lebih buruk.

Akan tetapi, kemudian sebuah senyum merekah di bibi manis Cinta. Dia terlihat kembali seperti normal. Dia bahkan terlihat seperti tergelitik. Dia memutuskan untuk pulang. Dia akan pulang menemui suami dan anaknya yang menunggunya di rumah.

Abs, 10/10/10

Hey, I'm Sorry

Saya tahu, saya sudah bersikap sangat tidak dewasa dihadapan Bapak. Saya tahu saya sudah membuat Bapak marah. Saya tahu bapak sangat marah - sangat sangat marah. Pasti kesal karena sudah menerima orang yang sama sekali tidak bisa bersikap profesional seperti saya. But, I have somethings to say to you...

Saya ini sangat tidak dewasa. Saya juga plin plan. Saya sadar hal itu dan saya sudah berusaha untuk mengubahnya. But, you know what? It's so difficult to change that. I've tried for so long. Tapi tetap tidak berhasil! Rasanya kebiasaan gila dan sangat buruk itu sudah melekat di diri saya. Tapi saya bersumpah, saya sangat ingin berubah. Saya ingin sekali menjadi orang yang lebih baik.

Saya minta maaf karena sudah membuat bapak kesal dan juga marah. Sangat menyedihkan ya, orang kayak saya... But, again I'm sorry...This time, if you give that trust to me, I'll hold it tightly. I swear. I won't let you down. I'm sorry...

Abs, 11/10/2010

Minggu, 10 Oktober 2010

Dilemma Yang Lain

Ini adalah sebuah dilemma. Bukan dilemma pertama yang aku alami dan mungkin juga ini bukan yang terakhir kalinya. Rasanya hidup ini tidak bisa dipisahkan dari dilemma.

Aku menghadapi dua pilihan yang sangat berbeda tapi aku rasa aku bisa mendapatkan secercah harapan dari kedua pilihan tersebut. Harapan kecil yang tentu saja bisa membuatku lolos dari dark age dalam hidupku.

Yang pertama, sebuah pilihan yang membuatku akan dengan pasti terjun untuk menerpkan ilmu yang telah aku pelajari dengan susah payah selama hampir empat tahun. Bahkan pilihan yang ini memiliki kemungkinan untuk membawaku ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Tapi pilihan ini berasal dari hal yang tidak aku sukai. Aku merasa aku tidak akan nyaman bila ada di dalamnya.

Yang kedua adalah sebuah pilihan yang bisa membuatku diam di dunia yang selama ini aku impikan. Bahkan aku berkesempatan untuk mewujudkan cita2ku kalau aku berada di dunia ini. Meski pun kesempatan untuk lanjut ke jenjang pendidikan yang selanjutnya agak suram (ini karena nggak ada beasiswa kayak yang dipilihan pertama). Tapi pilihan yang ini belum pasti! Aku bahkan tidak tahu pasti apakah aku bisa masuk ke dalamnya atau tidak. Aku masih harus menunggu keputusannya!

Satu lagi, pilihan yang pertama bisa saja membuatku berada dalam kondisi yang sekarat dan yang kedua bahkan lebih tidak pasti lagi (apakah aku akan sekarat atau tidak). Pasti pada nggak ngerti. Yeah, aku sendiri bingung…

Mungkin beginilah yang dihadapai bila sudah tamat sarjana. Ini bahkan lebih buruk daripada ujian skripsi (itu kalo dosen pengujinya baik. Tapi kalo bu susi, ogah dah!).

Abs, 10/10/10

Sabtu, 25 September 2010

Mr. Transparent Skin

I know, it’s not okay to call him Mr. Transparent Skin. But, what can I say? That was my first impression when I met him. He is just so white! I could even see his blood running in its vein. He’s a little bit different from his performance on TV. He’s not an actor or something like that but let’s say that he is a well-known public figure in my island. Great speaker and debator.

Ini adalah cerita dari wawancara pertamaku and I could not believe my ears when someone at the campus said that HE WOULD INTERVIEW ME! Apa yang bisa aku bilang? Aku pikir acaranya bakal santai, diwawancara oleh staf SDM atau apapun yang biasa mewawancarai pegawai baru. I never thought that he would do it.

Aku tahu penampilanku sangat buruk. Itu adalag interview pertamaku dan rasanya mau mati saja. I know that he must think that I’m a funny creature. He laughed at me! Jawabanku rasanya sangat tidak meyakinkan untuk bisa diterima bekerja di tempat itu.

Tapi, I just want to guess what he thought of me. Mungkin dia berpikir: Thank you, punk! Oh I think that is the right guess.

Template by:

Free Blog Templates